Bukan Laba, Bukan Rugi, Tapi Balance. Logika Akuntansi Mana yang Dipakai?

Source: Freepik

Lagi asyik scrolling Instagram, nggak sengaja lewat postingan yang memperlihatkan sekumpulan anak yang baru saja selesai bertempur dengan ujian Pengantar Akuntansi. Dan, aku punya satu hal menarik untuk aku bahas disini.

Oke, singkat cerita, hampir satu kelas mereka kompak mendapatkan hasil akhir "Rugi" di worksheet Laporan Laba Rugi mereka. Tapi, ada satu teman yang dengan sangat percaya diri bilang kalau laporannya "Balance". Jujur, sebagai orang yang berkecimpung di dunia keuangan, reaksiku cuma satu "Hah, gimana konsepnya?!"

Kita semua tahu kalau di dunia akuntansi, kata "Balance" adalah kasta tertinggi kebahagiaan. Kalau Neraca sudah seimbang antara Aset, Liabilitas, dan Ekuitas, rasanya dunia tenang dan kita bisa tidur dengan nyenyak. Tapi masalahnya, ini adalah Laporan Laba Rugi. Tempat di mana kita seharusnya "transparan" menghitung berapa pendapatan yang masuk dikurangi semua beban yang keluar. Hasilnya, ya cuma dua kemungkinan: kalau sisa ya Laba, kalau tekor ya Rugi. Kalau hasilnya nol alias seimbang? Ya berarti itu Break Even Point.

Tapi, lain cerita kalau satu kelas kompak rugi dan cuma satu orang yang mendadak seimbang. Ini bukan lagi soal efisiensi bisnis, tapi sebuah anomali logika yang menarik buat dibedah. Sepertinya, ini efek samping dari "trauma angka" ya? wkwk. Banyak mahasiswa akuntansi yang saking parnonya kalau angka nggak sama antara sisi kiri dan kanan, akhirnya terbawa suasana sampai ke laporan lainnya. Di pikiran mereka cuma ada satu doktrin: pokoknya harus sama! 

Padahal, Laporan Laba Rugi justru bertugas mencari selisih. Memaksakan Laba Rugi untuk balance itu ibarat kamu beli kopi seharga 20 ribu, bayar pakai uang 50 ribu, tapi kamu maksa nggak mau ada kembalian supaya uang di dompet kamu tetap "seimbang". Kedengarannya aneh, kan? Inilah sisi "logis" akuntansi yang sering aku bilang. Di balik panasnya suasana ujian, logika harus tetap menang. Akuntansi itu soal kejujuran angka, bukan soal memaksakan kesamaan agar terlihat indah di kertas ujian.

Buat kalian pejuang akuntansi yang mungkin pernah (atau sedang) di fase "yang penting balance", tenang aja. Kita semua pernah ada di titik itu kok, titik di mana kalkulator terasa lebih berat dari beban hidup *cielah. Tapi ingat, dalam bisnis nyata, ketidaksamaan itulah yang menunjukkan realitas. Rugi bukan berarti gagal, itu hanya potret bahwa beban kita sedang lebih besar daripada pendapatan. Dan itu jauh lebih baik daripada laporan yang seimbang tapi logikanya ga masuk akal.

Jadi, buat teman yang ada di postingan Instagram itu, aku cuma mau tanya "logika akuntansi mana yang kamu pakai?" Mungkin kita perlu ngopi bareng sambil buka kembali buku PSAK-nya, kali ya! Kalau menurut kalian sendiri, mana yang lebih bikin nyesek: laporan yang jujur tapi rugi, atau laporan yang dipaksa balance tapi bikin dosen kehabisan kata? Tulis pengalaman ujian paling absurd kalian di kolom komentar!

See you on next article!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Akuntansi Itu Nggak Serumit yang Kamu Bayangin, Serius!

6 Tahun Jadi Admin Keuangan & Operasional, Siapa Sangka Sekarang Jadi Penulis Akuntansi!

Apa itu Apk Halo BCA ? Fungsi, Keunggulan & Cara Penggunaannya